JAKARTA — Kalangan pengusaha menilai stimulus fiskal berupa pajak penghasilan (PPh) pasal 21 dan pajak penghasilan pasal 25 tidak akan efektif menyelamatkan perusahaan padat karya dari gempuran krisis ekonomi.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah mencari formula stimulus fiskal baru yang mampu menyelamatkan perusahaan dari pemutusan hubungan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Demikian salah satu kesimpulan rapat pemerintah yang diwakili para Deputi Menteri Koordinator Perekonomian, Kadin, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia di kantor Kementerian Perekonomian kemarin.
Menurut Wakil Ketua Umum Kadin bidang investasi, Chris Kanter, insentif pajak penghasilan itu tidak efektif karena tenaga kerja padat karya atau buruh memang tidak dikenai pajak.

“PPh 21 diberlakukan untuk perusahaan yang gajinya terkena pajak, sementara pendapatan sektor padat karya itu kan sebagian besar tenaga kerjanya tidak kena pajak,” kata Chris seusai rapat.

Pajak penghasilan pasal 21 mengatur soal pembayaran pajak pribadi sesuai dengan nilai pendapatan yang terkena pajak sebesar Rp 15,3 juta per tahun. Sedangkan pasal 25 mengatur soal cicilan pajak laba perusahaan per tahun.

Karena itu, menurut Chris, pasal 21 itu tidak efektif untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja dan meningkatkan daya beli. “Maka kami usulkan untuk meningkatkan daya beli, tarif listrik rumah tangga di bawah 450 kWh diturunkan,” kata Chris.

Menurut Chris, pasal 25 juga dinilai tidak terlalu efektif, jika memang perusahaan sudah mengalami kerugian, upaya yang dilakukan adalah penghematan.

Wakil Ketua Umum Kadin bidang kebijakan publik, fiskal, dan moneter, Hariyadi Sukamdani, menyatakan pemerintah dan pengusaha akan terus membahas formula stimulus fiskal yang tepat sasaran. Juga bisa untuk mengurangi pemutusan hubungan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.

“Karena dua stimulus fiskal ini belum efektif, sedang dirumuskan sektor mana yang akan diberi stimulus dan insentif apa untuk masyarakat yang bisa meningkatkan daya beli,” kata Haryiadi. l Anton Aprianto | Harun Mahbub

Koran Tempo