Dari Kompas.com
Judul Buku: “Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa”
Karya Prof. Dr. Tjipta Lesmana, MA

Suatu ketika, pada era pemerintahan Gus Dur, Laksamana Sukardi (Menteri Negera Badan Urusan Negara) ikut serta dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa dan Asia. Jadwal Presiden sangat ketat sehingga membuatnya teler. Para anggota rombongan pun kelelahan luar biasa.

Di Seoul, Gus Dur menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Korea. Kedua pemimpin negara duduk berdampingan. Perdana Menteri Korea berbicara kalimat demi kalimat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Rupanya, karena sangat lelah dan tidak menarik mendengarkan terjemahan, Gus Dur tertidur.

Pada salah satu bagian, PM Korea berujar, “Mr President, we have an excelent nuclear technology for power plant. If you are interested, we would be happy to have it for you. (Tuan Presiden, kami memiliki teknologi nuklir yang canggih untuk pembangkit tenaga. Kalau Anda berminat, kami bisa mengusahakannya untuk Anda),” Pemerintah Korea menawarkan bantuan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik Indonesia.

Saat itu, Gus Dur tidur pulas sekali. Selesai pernyataan itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris, PM Korea menoleh ke arah Gus Dur menunggu jawaban. Namun, tidak ada jawaban. Laksamana cepat-cepat membangunkan Gus Dur. “Gus…. Gus… bangun! Gus… dia tanya apakah kita interested dengan power plant technology yang dia punya.”

Gus Dur karena baru terbangun dari tidurnya dan belum berkonsentrasi langsung nyeplos, “My Minister ask about your nuclear technology…! (Menteri saya bertanya tentang teknologi nuklir yang Anda miliki),”

Laksamana geli bercampur malu. Anggota rombongan pun tersipu-sipu, tidak berani melihat wajah PM Korea. “Kita semua malu. Merah muka kita di hadapan Perdana Menteri Korea,” tutur Laksamana.

Demikian salah satu cerita yang terungkap dalam buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa karya Prof Dr Tjipta Lesmana, MA. Buku yang baru diluncurkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada pertengahan bulan November menguak pola komunikasi politik enam presiden yang pernah memimpin Indonesia, dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Tjipta melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Ia melakukan wawancara secara mendalam dengan 25 orang yang dekat dengan keenam presiden itu.

Sebagian besar informan adalah mantan menteri sehingga mereka sering berkomunikasi dengan Presiden. Dari pengalaman berinteraksi itulah mereka bercerita dan memaparkan apa saja yang diketahuinya tentang komunikasi politik sang presiden dan kesan mereka terhadap kepemimpinan presiden tersebut.

Buku setebal 396 halaman itu mengungkap gaya komunikasi para presiden Indonesia dalam beragam kondisi. Soekarno digambarkan sebagai sosok yang banyak bicara dengan bahasa lugas, tanpa tedeng aling-aling. Sementara itu, gaya Soeharto berada di ekstrem yang lain, hight context, para pembantunya harus pintar memahami yang tersirat di balik yang tersurat, plus memahami senyumnya yang multitafsir.

Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, tetapi terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga memiliki gaya yang sangat terbuka, demokratis, tapi cenderung diktator. Gus Dur sangat impulsif. Ia bisa tertawa terbahak, tetapi bisa juga menggebrak meja sekerasnya di depan komunikannya.

Megawati lain lagi. Meski dipandang cukup demokratis, pribadi Megawati dinilai tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya. Dan, tanpa diragukan lagi, tulis Tjipta, Megawati adalah seorang pendendam.

Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono digambarkan sebagai sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya, sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.

Yang menarik dari buku ini adalah semua analisis ditarik berdasarkan kisah-kisah kecil interaksi sehari-hari antara presiden dan para menterinya. Sebagian kisah itu tak pernah muncul ke publik sebelumnya.

(bersambung)