Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.

Pernahkah Anda mendapatkan pertanyaan di atas? Dalam suatu percakapan dengan rekan kerja, atau dalam wawancara? Dalam suatu wawancara baik untuk tujuan mapping potensi maupun rekrutmen, pertanyaan ini mungkin saja muncul. Beberapa mampu menjawab dengan memuaskan, yakni tepat pada substansi pertanyaan: “bertemu dengan banyak orang, kerjasama kelompok, banyak belajar hal baru, dsb”

Tapi di antara berjuta jawaban, yang sering terdengar justru : “saya sih paling suka kalau pekerjaan selesai, kalau semuanya berjalan lancar, kalau pas tidak ada masalah…”. Bahkan tidak sedikit yang menjawab dengan tersipu-sipu, “Ah, biasa saja, namanya juga tugas.”

Perbedaan yang mencolok bukan?

PEKERJAAN FAVORIT

Pada kenyataannya, tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan yang diidamkan in the first place. Bagi kita yang mengenyam pendidikan seperti dokter, mungkin menjadi dokter hampir pasti menjadi profesi ‘wajib’. Apabila ada di antara kita yang bergelar dokter kemudian bekerja sebagai reporter di majalah kesehatan, hanya sedikit orang yang tidak bertanya untuk mendapatkan penjelasan yang lebih detil tentang “kenapa-nya”. Pertanyaannnya, apakah ilmu kedokteran yang telah ditempuh selama ini menjadi sia-sia?

Lantas, bagaimana halnya dengan jurusan-jurusan di universitas seperti Ilmu Politik, haruskah menjadi politisi saja? Atau jurusan seni tari, hanya menjadi penari saja ?

Apa sebenarnya “definisi” pekerjaan favorit ? Singkat kata, pekerjaan favorit adalah ketika pekerjaan yang dilakukan membawa kenikmatan bagi kita. Membawa kenikmatan artinya membuat kita bisa menemukan keasyikan dalam tumpukan tugas, mampu mengangkat mutiara dari kedalaman laut dan bebatuan karang. Nah, bagaimana cara menemukannya ?

Bless in disguise

Tidak bisa dipungkiri, banyak sekali orang di negeri ini yang merasa kesulitan menikmati pekerjaannya. Faktanya, untuk diterima bekerja saja sudah sulit dengan persaingan yang begitu ketat di antara pelamar. Itu dari sisi pekerja. Dari sisi employer atau pebisnis, menciptakan dan membagikan pekerjaan juga merupakan tantangan tersendiri yang sama peliknya. Masalahnya adalah, apabila kita telah memiliki satu pekerjaan, namun tidak mampu mengenali daya tarik yang ditimbulkannya terutama bagi diri kita sendiri, bagaimana kita mengharapkan optimalitas? Bagaimana pula, orang lain, klien atau atasan bisa mengharapkan yang terbaik dari kita ?

Menemukan hal positif dalam rentetan aktivitas yang terlihat biasa, memang sesuatu yang subjektif dan butuh kesadaran usaha. Tanpa kesadaran bahwa proses pencarian ini butuh usaha, maka jangan berharap bisa menemukan apa yang ingin ditemukan. Belum lagi soal kejenuhan yang bisa hinggap di setiap orang yang bekerja apapun profesinya. Apakah keluar merupakan solusi ? mengajukan tuntutan pada “manajemen” dan pimpinan untuk lebih memperhatikan karyawan? Apakah berbisnis sendiri supaya tidak perlu lagi di komando orang tapi memberi komando…? Jawaban Ya atau Tidak di sini, tidak bisa digeneralisasi untuk semua orang. Lantas, cara apa yang bisa di lakukan one for all ? Carilah makna di setiap pekerjaan kita!

Bayangkan, kalau ada orang yang bekerja tanpa tahu kenapa dia harus mengerjakannya dan apa end product yang akan dihasilkan dari seluruh mata rantai pekerjaan itu – kondisi ini saja sudah memperbesar kemungkinan terjadinya kebosanan dan kehilangan makna.

Dengan menemukan makna, kita bisa melihat manfaat dari pekerjaan kita, apapun kondisinya. Dan hanya kita sendiri yang bisa memaknai pekerjaan itu, bukan orang lain karena lagi-lagi ini soal persepsi adalah soal subyektif. Kalau orang lain yang disuruh memaknai pekerjaan kita, bisa-bisa tidak cocok. Karena sekali lagi, setiap orang punya kesejarahan yang berbeda. Jadi semua harus kembali pada diri sendiri, untuk menemukan apa yang dianggap bernilai, berkah yang tidak terlihat dari apapun situasi dan kesulitan yang dihadapi.

Unik seunik diri

Banyak buku yang memotivasi orang supaya tidak selamanya menjadi pegawai, untuk segera menjadi pengusaha, untuk memiliki bisnis sendiri, memiliki waktu luang sendiri, jadi boss. Pertanyaannya, bisakah hal ini diterapkan pada semua orang ? Secara teknis, atau pun hitungan di atas kertas bisa membawa pada fakta yang berbeda dengan kenyataan di lapangan. Karena, otak manusia tidak hanya terdiri dari sel-sel kelabu yang merekam satu hingga ribuan informasi dan merekam keahlian, tapi pada otak manusia juga terdapat amygdala, bentuknya seperti biji almond, yang berfungsi mengatur proses-proses emosi dan memori. Apapun yang telah dan pernah tertanam dalam benak kita, sanggup mempengaruhi perspektif kita dalam melihat dan memaknai sesuatu. Mungkin saja sebuah kondisi dirasa sebagai beban oleh seseorang dan dianggap training ground oleh yang lain.

Prioritas

Sebagian dari kita mungkin lebih menikmati pekerjaan yang stabil dengan titian karir yang berirama sedang. Bagi orang-orang yang mengutamakan kestabilan dan kemapanan, biasanya cara mereka memkitang pekerjaan adalah dengan kalimat ’pekerjaan itu harus ditekuni’. Ditekuni dalam hal ini adalah dengan merintis dari awal, misalnya dari level marketing dua tahun, kemudian supervisi, hingga level manager, dan seterusnya di mana semua itu dirintis dalam satu perusahaan yang sama. Bisa jadi penitian karir ini juga berpindah tempat kerja, tapi masih dalam bidang yang sama Hal ini bisa jadi karena orang tersebut memandang perusahaan lain sebagai tempat ‘kenaikan tingkat’ nya.

Lain lagi untuk mereka yang tidak jarang dianggap ‘kutu loncat’. Sebagian orang menganggap hidup adalah eksperimen. Mereka tidak segan melepas sesuatu yang dianggap mapan oleh orang lain, tapi membosankan bagi dirinya. Kalimat “apa lagi sih yang dicari?” tidak berlaku bagi mereka.

Orang-orang ini sangat mungkin tiba-tiba menjadi pengusaha dalam berbagai tingkatan dan variasi, dari keroyokan dengan rekan satu visi hingga menjadi freelancer di sana dan di sini. Kemungkinan besar, mereka juga memiliki pekerjaan lebih dari satu, tidak adanya batasan dinding kantor memungkinkan mereka untuk bergerak lebih leluasa.

Beberapa point di atas bisa menghadirkan makna bagi orang yang mau mencari makna; namun hal ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak mampu melihat ‘mutiara’ di balik kerang. Contohnya mudah, bagi yang bekerja di kantor akan selalu mengeluh ‘bosan, bosan dan bosan’ tetapi ia telah dan tetap di kantor yang katanya membosankan itu selama bertahun-tahun lamanya.

Juga bagi yang tidak memiliki kantor tetap, siap-siap saja dengan makanan sehari-hari ‘susah, susah dan susah’ namun tetap berloncatan ke sana ke mari. Jangan salahkan rekan seperjuangan kalau lama-lama mereka mundur teratur karena hilang motivasi dan semangat kerja karena seringnya melihat roma frustrasi di wajah “boss”nya.

MANAJEMEN DIRI

Manajemen diri tidak pandang bulu. Apapun pijakan kita, apapun profesinya harus tetap dikenakan, di kantor dengan sistem pengawasan ketat, freelancer dengan banyak kantor hingga yang menjadi pemilik bisnis sendiri.

Bagaimana menjalankan manajemen diri ini? Buku, pelatihan dan banyak lagi sumber yang bisa menjadi inspirasi juga teman seperjalanan. Satu saran yang bisa penulis ajukan adalah dengan dengan mencocokkannya pada diri sendiri, karena pengaturan diri sangat berbeda dengan penyiksaan diri. Pengaturan diri itu dilkitasi oleh kesadaran akan tanggung jawab yang diembannnya, kesadaran atas komitmen yang telah dibuatnya, kesanggupan untuk taking care the consequences of his / her choices; serta kesadaran bahwa setiap pilihan dan tindakannya membawa pengaruh dan akibat pada orang-orang lain. Sementara, penyiksaan diri merupakan upaya represif dan opresif terhadap keinginan. Dengan menekan keinginan, maka tertekan pula aspirasi dan antusiasme kerja. Kalau antusiasme kerja menghilang, bagaimana bisa menemukan kenikmatan di dalam kerja ?

Sense of belonging

Keasyikan dan kenikmatan kerja akan sulit muncul ketika kita disconnected dengan pekerjaan dan lingkungan kerja kita. Mungkin kita berpikir bahwa kita bisa “melarikan diri” dari lingkungan tidak mengenakkan dengan cara betul-betul berkonsentrasi pada pekerjaan. Namun, setiap orang yang bekerja, merupakan bagian dari komunitas kerja, dan pekerjaan yang ditekuni hanyalah salah satu mata rantai dari pekerjaan orang lain. Akan sangat positif dan bermanfaat, bahkan lebih bermakna jika seseorang bisa melihat bahwa setiap orang yang terlibat, punya kontribusi yang sama-sama bernilai. Oleh karena itu, jika ada program pengembangan atau pun perbaikan di tempat kerja, alangkah baiknya disambut secara positif dari pada negatif atau apatis. Kenapa demikian ? balik lagi, cara setiap orang memandang kesempatan bisa membuat realita itu bermakna atau tidak bagi pertumbuhan dirinya.

Assessment Psychology

Bila kantor mengadakan asessment psikologi dengan wawancara sebagai salah satu penekanannya, manfaatkanlah! Jadikan ajang itu sebagai ajang evaluasi dan rekoleksi diri sendiri, dengan mengetahui detil diri sendiri, kita juga bisa tahu kekurangan dan kelemahan yang menghalangi pekerjaan serta hidup kita selama ini.

Brainstorming

Biasanya ada pertanyaan mengenai kritik atau masukan bagi perusahaan tempat kita bekerja atau perusahaan sebelumnya. Bedakan antara keluhan dan kritik. Keluhan bisa menjadi indikasi bahwa kita tidak mampu beradaptasi, apalagi jika ternyata kita tidak bisa mengungkapkan apa yang menarik dari pekerjaan kita selain ‘asal pekerjaan selesai dengan baik’. Lebih parah lagi jika ternyata kita berada dalam perusahaan itu bertahun-tahun lamanya, namun kacamata yang utama adalah kacamata hitam.

Kesempatan untuk berkumpul bersama, merupakan ajang untuk membangun sense of belongingness. Ketika kita merasa bahwa “saya adalah bagian dari perusahaan ini” maka kritik yang akan kita ajukan pun bukan kritik yang dilandasi kebencian dan keinginan untuk menghancurkan pihak lain, menyalahkan dan menghujat, melainkan kritik yang dilandasi keinginan untuk menemukan solusi terbaik bagi masalah yang ada. Kalau itu yang menjadi landasan, maka tidak akan terjadi perang urat syarat atau pun perang antar ego.

Bersahabat dengan diri sendiri

Bersahabat dengan diri sendiri bukan kalimat asing, namun seringkali kita tertipu. Ketika kita mampu menerima diri dengan segala dinamikanya, maka akan lebih mudah kita menikmati beragam nada di sekiktar kita. Tidak hanya itu, kita pun akan mampu menyusun nada-nada dalam satu partitur tersendiri, hingga membentuk alunan yang mungkin tidak bisa dinikmati semua orang, tapi jelas merdu bagi diri kita sendiri. Penegasan kata diri di sini tidak pernah lepas dalam konteks sosial yang melingkari. Seperti malam yang tidak hanya indah oleh bintang, tapi karena gelap malam yang melatari.

Kini, apakah mulai terbayang mutiara-mutiara dalam aktivitas keseharian Anda? Selamat menyelami samudera kehidupan dalam detik, hingga kita mampu melihat keindahan ilalang di terik matahari.