wisata-alas-purwo

Udara dingin mengalir terbawa angin menyelusup kedalam jaket yang melapisi tubuh. Seketika itu, perlengkapan ‘senjata’ yang sudah disiapkan mulai membidik satwa-satwa yang berkumpul di kawasan Savana Sadengan. Ya, itulah yang dilakukan beberapa pengunjung, bukan ‘senjata’ dalam arti sesungguhnya yang dipakai namun ‘senjata’ para fotografer berupa peralatan fotografi berupa kamera dan lensa untuk mengabadikan satwa liar.

Hamparan padang rumput hijau yang luas dan lebatnya hutan di pegunungan sebagai latar belakangnya, terdengar suara burung membius telinga dan terlihat titik-titik berwarna gelap bergerak perlahan diantara lebatnya rerumputan. Pagi itu, para pengunjung bisa melihat beberapa ekor rusa (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), burung merak (Pavo muticus) dan satwa yang paling ditunggu yaitu banteng (Bos Javanicus). Sosok banteng yang kekar dengan warna kulit hitam (banteng jantan) dan cokelat kemerahan (banteng betina), keempat tungkai kakinya seolah mengenakan kaus kaki putih, pantat berwarna putih dan tanduk runcing melengkung sebagai mahkota kepalanya ini menjadikan satwa herbivora yang sangat mempesona dan menjadi kebanggaan sekaligus wisata andalan Taman Nasional Alas Purwo.

Jenis obyek wisatanya pun beragam, sehingga pengunjung dapat memilih mana yang cocok. Bagi mereka yang gemar berpetualang, kawasan Taman Nasional Alas Purwo-lah surganya. Bagi penggemar fotografi, berhati-hatilah untuk tidak kehabisan rol film atau lupa men-charge baterai, karena sungguh banyak obyek wisata yang menarik akan sangat disayangkan kalau dilewatkan.

 BAGAIMANA KE LOKASI ALAS PURWO

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo dapat ditempuh dari beberapa kota besar seperti Banyuwangi dan Jember. Sedangkan khusus ke Plengkung dapat ditempuh lewat darat maupun lewat laut (Grajagan).

Alternatif 1

Nama Tempat

Jarak (km)

Waktu (menit)

Sarana

Baanyuwangi – Kaliapit 59 120 Kendaraan bermotor
Kaliapit – Pasaranyar 3 5 Kendaraan bermotor
Pasaranyar – Rowobendo 10 60 Kendaraan bermotor
Pasaranyar – Trianggulasi 12 90 Kendaraan bermotor
Trianggulasi – Ngagelan 5.6 30 Kendaraan bermotor
Trianggulasi – Pancur 3 10 Kendaraan bermotor
Trianggulasi – Sadengan 2 15 Kendaraan bermotor
Trianggulasi – Goa Istana 2 25 Jalan kaki
Trianggulasi – Plengkung 6.8 30 Kendaraan bermotor

 

Alternatif 2

Nama Tempat

Jarak (km)

Waktu (menit)

Sarana

Jember – Benculuk 80 120 Kendaraan bermotor
Banyuwangi – Benculuk 30 45 Kendaraan bermotor
Benculuk – Grajagan 18 30 Kendaraan bermotor
Grajagan – Plengkung   30 Speedboat
       

 

POTENSI WISATA ALAS PURWO

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) dikenal sebagai semenanjung Blambangan, terletak di kecamatan Tegaldlimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis TNAP berada pada 8° 26′ 45″ – 8° 47′ 00″ LS dan 114° 20′ 16″ – 114° 36′ 00″ BT, merupakan salahsatu kawasan pelestarian alam di Indonesia. Penetapan status taman nasional berdasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 283/Kpts. 11/1992 tanggal 26 Februari 1992. Balai TNAP juga mengelola kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, dan terdiri dari 3 seksi konservasi wilayah yang meliputi Rowobendo, Muncar dan Kawah Ijen.

Kawasan perlindungan yang terleta di ujung timur pulau jawa ini mempunyai luas wilayah 43.420 Ha yang terbagi menjadi 4 sistem zonasi, yaitu zona inti (sanctuary zone) dengan luas 17.200 Ha, zona rimba (wilderness zone) seluas 24.767 Ha, zona pemanfaatan (intensive use zone) seluas 250 Ha dan zona penyangga (buffer zone) dengan luas 1.203 Ha. Topografi lahan secara umum datar, bergelombang ringan hingga berat dengan puncak tertinggi Gunung Linggamanis (322 m diatas permukaan laut). Rata-rata curah hujan yang mengguyur kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati ini mencapai 1000-1500 mm per tahun, dengan wilayah barat menerima curah hujan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah timur. Temperatur udara berkisar 22-31 °C dengan kelembaban udara 40-85 persen.

Beberapa tempat wisata di Alas Purwo:

SADENGAN
sadenganMerupakan lokasi padang penggembalaan yang ditanami rumput lamuran dengan luas 80 Ha. Di Sadengan disediakan menara pengintai untuk menyaksikan atraksi satwa yang sedang merumput, antara lain Banteng (Bos Javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Rusa (Cervus timorensis), Merak (Pavo muticus), Babi Hutan (Sus scrofa), dan jenis-jenis burung. Waktu yang terbaik untuk pengamatan adalah pukul 05.00-07.00 WIB dan 16.00-18.00 WIB. Para pengunjung Sadengan dapat menggunakan kendaraan roda empat/dua menuju parkir yang disediakan agar tidak mengganggu kehidupan satwa liar yang ada di padang penggembalaan.

PURA LUHUR GIRI SALAKA
Tempat persembahyangan umat Hindu, berada di jalan masuk menuju ke Triangulasi, merupakan salah satu pura peninggalan sejarah yang sampai sekarang masih dipakai oleh umat Hindu untuk acara keagamaan yaitu upacara Pager Wesi yang diadakan setiap 210 hari sekali. Pager Wesi merupakan upacara penyelamatan ilmu pengetahuan yang diturunkan oleh para dewa dari ancaman raksasa yang akan memangsa. Sehingga dalam upacara tersebut ada yang disebut prosesi Palemahan, Pawongan dan Kayangan. Palemahan adalah membuang sesaji ke tanah agar dimakan oleh Betarakala. Pawongan merupakan upacara untuk umat Hindu dalam menerima ilmu sedangkan Kayangan merupakan upacara tanda syukur kepada Sang Dewa yang telah memberikan ilmu pengetahuan. Sebelumnya diambil air dari tiga sumber; Kucur, Pancur dan Air Laut. Ketiganya merupakan air suci ( pertemuan air gunung dan air laut ) bagi umat Hindu yang akan melaksanakan upacara Pager Wesi. Untuk itu air tersebut harus diarak dengan berbagai gamelan khas Hindu dari tempat pengambilan sampai ke Pura Luhur Giri Salaka.

GOA ISTANA
Setidaknya di TNAP ada sekitar 40 goa, namun yang sangat terkenal adalah Goa Istana. Goa ini terletak dua kilometer di sebelah utara Pancur. Goa ini ramai dikunjungi karena dipercaya sebagai tempat kekuatan supranatural untuk semedi maupun hanya untuk berziarah.

PANCUR
Terletak di sebelah Timur Trianggulasi, berjarak ± 3 km dan merupakan camping ground yang dapat menampung 4 buah tenda berukuran 4 x 6 m2 (60 – 100 orang). Dinamakan Pancur karena ada sungai yang mengalir sepanjang tahun ke laut melalui pantai yang agak terjal sehingga membentuk Pancuran.

PLENGKUNG
plengkungTerletak disebelah Selatan Pancur (± 8,3 km), dapat dijangkau dengan jalan kaki (± 2 jam) atau menggunakan angkutan khusus (± 0,5 jam). Di sepanjang jalan terlihat pantai berpanorama indah dengan flora khas Sawo Kecik (Manilkara kauki). Plengkung mempunyai keunikan tersendiri dengan ombak yang sangat bagus untuk olah raga selancar (surfing). Menurut para peselancar dunia, ombak di Plengkung termasuk 5 besar terbaik dunia dan telah 4 (empat) kali dijadikan even tingkat internasional.

TRIANGULASI
trianggulasi-blogDiambil dari nama tugu Triangulasi / titik ikat yang terletak di dekat pantai. Pantai Triangulasi merupakan pantai yang indah panoramanya, berpasir putih, dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon Bogem serta Nyamplung. Apabila beruntung pengunjung dapat menikmati suasana Sunset. Walaupun mempunyai ombak yang besar, namun Pantai Triangulasi kurang cocok untuk olahraga surfing (selancar) dan berbahaya untuk mandi, disini juga tersedia fasilitas penginapan berbentuk rumah panggung berdinding kayu yang apik. Ada sekitar lima pesanggrahan dengan tarif menginap berkisar Rp. 22.500,- sampai Rp. 33 ribu per orang per malam. Bagi yang suka mancing (fishing) bisa mendapatkan kepuasan tersendiri disini dengan mendapatkan ikan yang lumayan besar dan banyak.

PANTAI NGAGELAN
Terletak di sebelah Barat Triangulasi berjarak ± 5,2 km dan merupakan tempat penangkaran penyu semi alami dan pendaratan 4 jenis penyu yang akan bertelur. Jenis-jenis Penyu tersebut antara lain adalah Penyu Lekang / Abu-abu (Lepidochelys olivaceae), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coreacea) dan Penyu Hijau (Chelonia mydas). Diantara keempat Penyu tersebut, Penyu Lekang/Abu-abu adalah yang terbanyak mendarat dan bertelur di Pantai Ngagelan. Ngagelan bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat / dua dari Pos Rowobendo menuju ke arah Barat atau dijangkau dari Triangulasi dengan berjalan kaki melalui pantai sepanjang ± 8 km. Penyu ini merupakan species yang dilindungi karena termasuk dalam daftar appendix 1 (satwa langka) sehingga tidak dapat diperjualbelikan.

FLORA DI ALAS PURWO

tumbuhan-alas-purwoSecara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah yang dipengaruhi oleh angin musim. Ciri – ciri hutan musim hujan masih terlihat dengan adanya padang rumput, pohon gebang, dan jenis tumbuhan yang menggugurkan daun di musim kemarau. Sampai dengan tahun 2002 tercatat sebanyak 580 jenis tanaman yang terdiri dari herba, semak, liana, pohon, tumbuhan obat, mangrove (bakau), tumbuhan eksotik, dan jamur. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan, hampir 40% dari hutan yang ada didominasi oleh bambu. Salah satu jenis bambu yang khas adalah Bambu Manggong (Gigantochloa manggong).

Selain Bambu Manggong, terdapat tumbuhan langka dan khas di wilayah ini, yaitu Sawo Kecik (Manilkara kauki). Berdasarkan hasil inventarisasi dan penomoran pohon Sawo Kecik tahun 1993 terdapat 449 batang tingkat pohon dan 11.024 batang tingkat anakan. Sawo Kecik tumbuh secara alami tersebar tidak merata sepanjang pantai Selatan mulai dari Parang Ireng sampai dengan Parang Gedek seluas 82,45 Ha dan pantai Timur dimulai dai Payaman sampai Bringin 24 Ha. Sampai dengan tahun 2001 tercatat sebanyak 26 jenis dari 16 famili tumbuhan yang menyusun hutan bakau. Salah satu diantaranya Scyphyphora hydrophyllaceae Gaertn. yang dikenal dengan nama lokal Perpat Lanang. Tumbuhan ini termasuk jenis pohon bakau yang langka yang kayunya dapat digunakan untuk peralatan makan, seperti sendok, sedangkan daunnya dapat digunakan untuk mengobati sakit perut.

Sawo Kecik (Manilkara kauki)
Salah satu flora khas Taman Nasional Alas Purwo yang tingginya bisa mencapai 30 meter. Tajuk tebal, hampir bulat dengan daun berbentuk bulat telur dan berkelompok pada ujung ranting. Sawo kecik merupakan tanaman berumah dua yang penyerbukkannya harus berasal dari 2 jenis tanaman yang berbeda. Banyak ditemukan di sepanjang jalur dari Pancur menuju Plengkung terutama di daerah Parang Ireng.

Ketapang (Terminalia catappa Linn)
Pohon dengan tajuk yang jelas bertingkat dan berbentuk pagoda ini sangat mudah dikenali dan rebusan akarnya dapat digunakan untuk mengobati radang selaput lendir usus, beser dan mejen. Ketapang ini banyak dijumpai di sekitar Pantai Marengan.

Kepuh (Sterculia foetida Wall)
Pohon Kepuh memiliki daun majemuk menjari, beranak daun tujuh dengan bunga berupa malai yang berwarna merah menyala dan berbau busuk. Buahnya termasuk buah bumbung dengan ujung berbentuk paruh, pada saat tua berwarna coklat serta mudah pecah yang akan menyemburkan biji-bijinya yang berwarna hitam.

Bambu Manggong (Gigantochloa manggong)
Flora maskot Kabupaten Banyuwangi ini biasanya hidup di lembah dan lereng dekat dengan aliran air. Dicirikan dengan batang berwarna hijau basah dan tidakberduri, batang atas lebih besar dari pada batang bawah dan jika sudah berbunga satu rumpun akan mati semua namun bunga yang jatuh akan membentuk rumpun baru.

Gebang (Corypha utan Lamk)
Gebang termasuk dalam famili Palmae yang tumbuh lambat dan pada umur 30 atau kadang – kadang 60 tahun baru berbunga. Pohon ini memiliki keunikan, yaitu akan mati bila sudah berbunga.

Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.)
Tumbuhan ini biasanya ditemukan menempel pada pohon karena memiliki batang memanjat atau melata dan akar lekat. Bulir buah berbentuk silinder dan berwarna merah cerah (tua) dengan panjang ± 4 cm. dan biasa digunakan sebagai campuran untuk obat sakit gigi, cuci luka, obat kumur untuk sariawan, peluruh air seni, peluruh kentut, peluruh keringat, penurun panas, pereda kejang, demam, pegal linu, gangguan pencernaan, tolak angin, galian singset dan galian remaja. Jika ditumbuk halus bersama Pulosari dan benggle dapat digunakan sebagai olesan perut untuk wanita yang sedang nifas. Dapat hidup di ketinggian 0 – 600 m dpl, tumbuh baik melilit pada pohon mahoni, johar dan akasia. Biasa dijumpai di sekitar Pos Rowobendo hingga Ngagelan.

Rotan (Calamus sp)
Tumbuhan menjalar ini menyerupai bambu, hanya merupakan batang masif. Biasa digunakan oleh masyarakat sebagai bahan baku kursi, meja, rak, kerajinan tangan maupun hiasan. Banyak terdapat di sepanjang Sunglon Ombo hingga Pancur dan di sekitar Sembulungan, Perpat, Slenggrong, Tanjung Pasir dan Brobos.

Nyamplung (Calophyllum inophyllum)
Tumbuhan pantai tipe Barringtonia ini memiliki biji yang terbungkus tempurung dan biasa digunakan sebagai manik – manik atau hiasan, berdaun tebal dengan percabangan yang banyak. Terdapat di sepanjang hutan Marengan yang merupakan hutan pantai.

 

 

 

 

FAUNA DI ALAS PURWO

fauna-alas-purwoKeanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Jenis – jenis Reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis dan Mamalia sebanyak 31 jenis. Jenis – jenis dari Mamalia diantaranya adalah Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis). Banteng merupakan salah satu satwa khas TN Alas Purwo yang banyak terdapat di Padang Penggembalaan Sadengan. Jenis Aves (burung) yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air yang beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang teridetifikasi sebanyak 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat diantaranya adalah Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), dan Merak (Pavo muticus).

Fauna di Alas Purwo
Banteng (Bos javanicus)

Banteng jantan dewasa berwarna hitam dengan tanduk besar dan runcing, sedangkan betina dewasa coklat kemerahan dengan tanduk kecil. Keduanya memiliki bagian pantat dan kaos kaki pada bagian bawah tungkai yang berwarna putih. Makanan utamanya adalah rumput-rumputan serta beberapa vegetasi perdu dan vegetasi berkayu yang pendek. Hidupnya berkelompok namun ada juga yang hidup soliter. Banyak ditemukan di padang penggembalaan Sadengan.

Rusa (Cervus timorensis)
Selain banteng, rusa juga banyak ditemukan di Padang Penggembalaan Sadengan. Rusa Jantan memiliki tanduk dan bulu kulit yang berwarna coklat tua, sedangkan rusa betina tidak bertanduk dengan bulu kulit berwarna coklat kemerahan.

Macan Tutul (Panthera pardus)
Bersifat soliter dan merupakan salah satu satwa karnivora yang langka dan dilindungi. Satwa ini mampu memanjat, berlari cepat, melompat, berenang dan menaklukkan mangsanya dalam gelap. Macam Tutul ini dapat dijumpai di sekitar Kucur, Perpat dan Batu Lawang.

Ajag (Cuon alpinus)
Ajag merupakan satwa predator yang dilindungi. Ajag dewasa berwarna merah sedangkan yang baru lahir berwarna kehitaman dengan ekor relatif panjang. Ajag memiliki ketajaman mata dan telinga sehingga mampu mendeteksi mangsanya saat hari sudah gelap.

Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
keraHidup bergelantungan diantara pohon, dahan dan ranting serta kadangkala berjalan-jalan di tanah. Banyak terdapat di Triangulasi, Rowobendo, hutan Marengan, Pancur, Plengkung, Sembulungan, Perpat, dan Slenggrong.

Penyu
Terdapat 4 (empat) jenis yang sepanjang tahun mendarat di Pantai Marengan dan Ngagelan, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Abu-abu (Lepidochelys olivaceae). Dari keempat jenis penyu ini, Penyu Abu-abu merupakan jenis penyu yang paling banyak mendarat dan bertelur di Pantai Marengan maupun Ngagelan.

Merak (Pavo muticus)
Merak (Pavo muticus) termasuk Aves berukuran besar. Merak jantan memiliki jambul tegak di kepala dan berekor kipas yang sangat panjang dan bulunya memiliki bulatan seperti mata yang berkilau. Merak betina tidak memiliki ekor yang panjang dan warna bulunya kurang bagus. Selama masa kawin, burung betina memilih pasangannya berdasarkan jumlah “mata” pada bulu ekornya bukan berdasarkan kecantikan ekor yang panjang dan berwarna – warni. Merak hijau ini banyak ditemukan di sekitar padang penggembalaan Sadengan dan di hutan jati sekitar Marengan.

Burung Migran (Migratory Birds)
Burung migran ini berasal dari benua Australia yang pada musim dingin pindah ke Indonesia untuk mencari makan dan melakukan kopulasi. Terdapat ± 39 jenis burung dengan jenis-jenis dominan antara lain : Pelikan (Pelicanus consipillatus), Cikalang (Fregata sp), Cerek (Charadrius sp), Trinil (Tringa sp), Gajahan (Numinius sp), Kedidi (Calidris sp) dan Dara Laut (Sterna sumatrana).