Kalau sudah hobi, rasanya uang bisa dihabiskan begitu saja untuk menyalurkan hobi kita. Sebut saja Yenny yang keranjingan membaca. Apalagi kalau yang namanya komik dan novel. Sebut saja satu judul novel, maka ia sudah tahu siapa yang mengarang dan apa isinya. Apalagi komik Jepang yang sekarang ini banyak memenuhi rak-rak di toko buku.

Setiap bulannya, Yenny menghabiskan uang sampai ratusan ribu hanya untuk membeli buku dan novel kesukaannya. Alhasil, terkadang ia harus banyak mengurut dada di akhir bulan melihat dompetnya yang sudah tipis di akhir bulan. Mungkin itulah kenapa sebagai lajang bekerja ia masih belum punya tabungan juga. Membaca memang hobi yang baik. Tapi kalau sampai menghabiskan anggaran bulannya tentu saja hal tersebut menjadi tidak baik lagi.

Lain Yenny, lain lagi dengan Joni. Kalau Yenny lebih suka membaca, maka Joni lebih suka dengan memelihara ikan hias. Akuarium di rumahnya bukan satu lagi, hampir di setiap pojokan rumahnya ada akuarium. Dan ternyata bukan cuma akuarium, kolam pun ada di belakang rumahnya. Dan ikannya pun bukan sembarang ikan. Tapi ikan hias yang harganya bervariasi dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah.

Kalau sudah cinta, apapun akan dilakukan untuk sesuatu yang dicintai itu. Kalau sudah hobi, berapapun harganya pasti dibeli juga. Tapi kalau hobi dituruti terus, bukan tidak mungkin anggaran akan jebol jadinya. Karena yang namanya hobi, tentunya adalah keinginan yang sebetulnya tidak primer untuk diikuti. Sedangkan masih banyak kebutuhan lain yg primer untuk dipenuhi. Baik itu kebutuhan primer yang sifatnya mendesak, maupun kebutuhan di masa depan nanti yang belum pasti.

Lalu bagaimana caranya agar hobi tak menguras kantong?

Prioritaskan kebutuhan di atas keinginanApapun hobi Anda dan seberapa besar pun rasa suka akan hobi Anda, tapi ada satu hal yang pasti. Yang namanya hobi, itu hanya keinginan, dan bukan kebutuhan, setuju?

Sudah menjadi kesepakatan kita bersama bahwa yang namanya keinginan pasti dinomorduakan setelah kebutuhan. Iyalah, kan tidak mungkin kita mengorbankan kebutuhan susu untuk anak, lalu uangnya dibelikan akuarium baru karena kita doyan pelihara ikan.

Atur alokasi dana hobi

Hobi itu bersifat subjektif. Bagi yang hobi, ia akan melakukan segalanya untuk menyalurkan hobinya. Tapi untuk orang lain, mungkin hal itu disebut sebagai pemborosan saja. Maka bukan tidak mungkin sepasang suami istri bisa ribut hanya karena salah satu pihak dianggap boros untuk hobinya.

Untuk menghindari hal tersebut, coba sepakati alokasi dana untuk hobi. Misalnya, dana untuk hobi dibudgetkan sekian ratus ribu dari penghasilan bulanan. Atau dana untuk hobi hanya boleh diambil dari uang lembur yang diterima, tapi tidak boleh menggangu penghasilan yang sudah rutin.

Selain sumber pemasukannya yang diatur, pola pengeluaran juga harus diatur jika sudah terlalu sering melanggar kesepakatan. Misalnya dengan membuat rekening khusus dengan kartu debet untuk hobi. Setiap kali belanja untuk menyalurkan hobinya, gunakan kartu debet tersebut. Dengan cara ini, belanjanya akan secara otomatis dibatasi oleh saldo rekening.

Atau kalau tidak mau direpotkan dengan prosedur bank seperti membuka rekening baru, menunggu aktivasi kartu dan sebagainya. Cara konvensional pun bisa digunakan. Misalnya dengan membatasi uang tunai yang dibawa. Atau dengan cara yang lebih canggih yaitu dengan dompet elektronik. Tanpa membuka rekening baru, Anda bisa memiliki kartu belanja dengan saldo tertentu.

Komersilkan hobi, kenapa tidak?

Kalau Anda sudah bosan harus banyak mengeluarkan uang untuk menyalurkan hobi. Kenapa tidak dilakukan hal sebaliknya saja. Buat hobi Anda menjadi sesuatu yang justru menghasilkan uang. Atau dengan kata lain, komersilkan hobi Anda.

Semua hobi yang mengeluarkan uang, pasti bisa juga mendatangkan uang. Caranya, mudah saja. Telusuri kemana uang Anda pergi selama ini untuk menyalurkan hobi. Lalu coba balikkan posisi Anda menjadi penerima uang, bukan pembayar uang.

Misalnya, hobi memancing akan banyak mengeluarkan uang untuk membeli peralatan pancing, umpan, sewa lahan pancing, bacaan, dan sebagainya. Itu artinya sumber uang itu ada jika Anda bisa menjual peralatan pancing, menyediakan lahan pemancingan, atau menyediakan bacaan atau pelatihan pemancingan.

Begitu juga dengan hobi mahal lainnya seperti kutak-katik kendaraan antik. Walaupun Anda bekerja dan tidak menguasai teknik otomotif, tapi hanya suka dengan kendaraan antiknya saja. Anda bisa juga menjadikannya sebagai sumber penghasilan daripada hanya sekedar sumber pengeluaran. Misalnya dengan mengirimkan tulisan-tulisan dan foto tentang kendaraan antik yang Anda ketahui ke tabloid atau majalah khusus otomotif antik. Yang lebih besar lagi, Anda bisa juga melakukan jual beli kendaraan antik yang Anda miliki.

Salam
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan

Dikutip dari Majalah Alia

Advertisements