Oleh: dr. Nurul Muzayyanah

Alloh tidak melarang hamba-Nya memperbanyak harta di dunia ini. Namun sebagai seorang muslim harus ingat bahwa segala fasilitas yang kita nikmati di dunia ini sebenarnya sebagai bekal mengarungi kehidupan panjang di akherat dan sarana mencari keridhoan Alloh semata. Sebagaimana Rosul bersabda: “beramalah kamu untuk akheratmu seolah-olah kamu mati besok, bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya”. Firman Allah “ Dan carilah apa-apa yang akan menjadi bekal akheratmu dan jangan melupakan kehidupan duniamu…..”.

Islam tidak pernah membatasi jumlah maksimal harta yang boleh dimiliki, namun memberi batasan cara memperoleh dan memanfaatkan harta. Islam mengajarkan bahwa harta yang kita peroleh bukanlah semata-mata karena kerja keras, kepandaian, atau keuletan kita.  Semua itu hanya merupakan  kondisi (hal)  yang dapat mendatangkan rizki. Harta yang kita peroleh adalah merupakan rizki yang Alloh berikan kepada kita semata. Dengan demikian dalam harta kita terdapat hak-hak Alloh yang harus dipenuhi oleh setiap kaum muslimin. Di sana ada zakat wajib, zakat mal, shodaqah dan lain-lainnya. Setiap harta yang kita keluarkan untuk jalan Alloh pada dasarnya bukan untuk mengurangi harta melainkan pensucian harta dari hak Alloh.

Harta yang diamanatkan Alloh kepada kita membawa konsekwensi yang berat di dunia dan akherat. Pengelolaan dan pengaturan penggunaan harta sangat tergantung pada kemampuan menegerial dari seluruh anggota keluarga. Seorang suami berkewajiban mengatur sirkulasi harta secara keseluruhan. Sedang istri bertanggung jawab dalam pengaturan sirkulasi anggaran untuk kelangsungan urusan rumah tangganya dengan baik. Begitu juga anggota keluarga lain bertanggung jawab dengan pemanfaatan harta yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya. Hidup hemat menjadi harapan semua keluarga muslim, terutama setiap istri sholikhah. Apalagi Islam sangat menganjurkan pola hidup yang sederhana. Namun lagi-lagi kita dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit. Anggaran  rumah tangga  yang melonjak akibat harga kebutuhan pokok yang selalu naik tidak seimbang dengan pendapatan (income) yang ada. Jangankan berfikir untuk menyisihkan uang untuk bersedekah, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja tidak mencukupi. Lebih memusingkan lagi jika sudah memasuki akhir bulan, kebutuhan tidak dapat ditunda tapi persedian anggaran sudah menipis.

Keadaan ini tentunya tidak boleh terjadi terus-menerus. Oleh karena itu diperlukan pengaturan dan kiat tertentu sehingga anggaran kita tidak selalu lebih besar pasak dari pada tiang. Di sisi lain sebagai seorang muslim kita tidak kehilangan kesempatan untuk berinfaq dan bersedekah agar menambah keberkahan hidup keluarga kita. Seorang istri sholihah harus pandai mengatur strategi agar kebutuhan rumah tangga sesuai dengan anggaran yang disediakan. Tanpa mengurangi kebutuhan nutrisi bagi seluruh anggota keluarga terutama anak-anak yang memerlukan gizi seimbang. Bersikap hemat bisa dicoba dari hal-hal yang sederhana. Misalnya, ketika kita memenuhi kebutuhaan keseharian dapur seperti:
– Keputusan untuk memilih teh bubuk (teh saringan) akan menghemat dua kali lebih besar dari pada memakai teh celup.
– Jangan malas membandingkan komposisi bahan makanan dan berat bersihnya. Seringkali didapatkan bahan makanan dengan komposisi dan berat bersih sama harganya jauh berbeda.
– Jangan bosan melihat informasi program diskon dan kesempatan mendapatkan kartu diskon. Siapa tahu ada potongan harga bahan makanan yang anda perlukan sampai 50 %.
– Untuk barang tertentu yang penggunaanya banyak dan sering dapat dibeli dalam jumlah besar karena umumnya lebih murah, misalnya beras, minyak goreng, tissue, dan lainnya.
– Jika ada makanan favorit keluarga, sebaiknya buat makanan dalam jumlah banyak kemudian dibekukan dalam freezer, jika dibutuhkan bisa diambil. Dengan demikian anda lebih menghemat karena  tidak sering membeli bahan-bahan makanan.
– Jika tidak terpaksa pilihlah makanan dengan kemasan plastik dari pada kemasan  kotak atau kaleng. Bukankah kita  membeli isi bukan kemasan?.

Selain kiat di atas kita dapat mencoba strategi alokasi anggaran bulanan sesuai dengan besar pendapatan yang kita peroleh dengan rumus 30 : 20 : 30 : 20.
– 30%  anggaran maksimal  dialokasikan untuk keutuhan sewa rumah, kost atau apartemen.
– 20% anggaran dapat disimpan untuk investasi, tabungan atau simpanan emas untuk menambah kekayaan  yang dapat digunakan untuk perencanaan jangka panjang. Misalnya beli rumah, kendaraan pribadi atau kebutuhan sekolah anak masa depan.
– 30 % anggaran untuk operasional kebutuhan sehari-hari. Misalnya anggaran belanja, zakat maal, kartu tagihan, dan lainnya.
– 20 % anggaran dialokasikan untuk kebutuhan ekstra seperti Shodaqoh, infak, beli baju dan kebutuhan lain, acara syukuran, undangan walimah, acara silaturrohim, rekreasi,  atau yang lainnya

Dengan memperhatikan dan berlatih berdisiplin mengalokasikan anggaran dengan tepat insyaAlloh kita akan terjaga dari  pemanfaatan harta yang tidak tepat dan berlebihan. Disisi lain kita mempunyai lebih banyak kesempatan beramal sholeh untuk menambah keberkahan harta kita. Sebagaimana firman Alloh: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir dan pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian.”(Al-Furqon 67)

Selain itu sebagai seorang muslim berkewajiban selalu menjamin kepastian segala kebutuhan hidup dan makanan dengan barang yang halal. Sebagaimana sabda Rosul “ Seorang lelaki berdo’a, Ya Tuhan, Ya Tuhan, sedang makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya juga haram. Ia diberi makan (sejak kecilnya) dengan yang haram, bagaimana mungkin do’anya dikabulkan.” (HR Abu Hurairah r.a.).

Istri solihah selalu cermat ketika sedang berbelanja makanan dengan memperhatikan:
– Membaca dan mencermati label yang tertera pada kemasan: logo halal, No MD, ML, atau SP daftar ingredien untuk menjamin kesehatan dan keselamatan.
– Hindari produk yang mengandung istilah yang belum difahami, produk impor yang menggunakan bahasa asing, yang tidak memiliki nomor ML dan logo halal.
– Untuk produk sembelihan perhatikan apakah disembelih dengan cara islami dan jangan sungkan menanyakan pada penjualnya tentang status kehalalannya.

Demikianlah alternatif tipe-tipe mengatur anggaran keluarga kita semoga bermanfat bagi kita semua.

Wassalam.

Sumber: http://www.halalsehat.com