Ngompol atau sering juga disebut dengan nokturnal enuresis ialah pengeluaran urine yang tidak disadari pada saat tidur. Normalnya, seorang anak mengompol hingga usia mereka menginjak 5-6 tahun.

ngompol-1Pada usia ini kebiasaan ngompol masih dianggap wajar karena anak memang belum terbiasa untuk mengontrol air kemih saat mereka tertidur.

Anak yang masih ngompol, walaupun sudah melewati umur batas wajar ngompol tentu menjadi masalah yang harus diselesaikan. Karena pada beberapa kasus, anak akan merasa rendah diri, gelisah, dan malu. Apalagi kalau sampai mendapat julukan si tukang ngompol.
Sebuah survei di Inggris menyebutkan, setengah juta anak berusia 6-16 tahun masih suka ngompol. Satu di antara enam (17%) anak berusia lima tahun masih ngompol secara teratur. Empat belas persen anak berusia tujuh tahun, sembilan persen anak berusia sembilan tahun, dan 1-2 % anak berusia 15 tahun masih ngompol juga.

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab anak ngompol, yang pasti ngompol bukan hanya disebabkan faktor psikologis. Bisa jadi karena kekurangan hormon Anti Diuretc Hormon (ADH), atau karena faktor keturunan.

Secara umum, penyebab anak suka ngompol bisa dikarenakan dua hal; secara medis dan psikologis. Secara medis, anak suka ngompol boleh jadi diakibatkan beberapa hal. Di antaranya, karena anak kekurangan hormon Anti Diuretc Hormon (ADH) yang bisa menyebabkan sang anak tak bisa mengontrol produksi air kemihnya.

Menurut Dokter Sudung O Pardede, spesialis penyakit ginjal dan saluran kandung kemih anak, kekurangan hormon ADH bukan disebabkan faktor keturunan, tapi karena beberapa penyakit seperti tumor atau infeksi otak. Bila ini penyebabnya, menurut Sudung, kemungkinan jaringan kelenjar hipofisis yang memproduksi hormon ADH akan terganggu. “Dalam bahasa kedokteran ini disebut diabetes insipidus,” ujarnya.

Namun, menurut dokter sekaligus dosen Fakultas Universitas Indonesia ini, persentase anak yang kekurangan hormon ADH masih terbilang kecil. Anak yang menderita kelainan hormon ADH ini bisa diatasi dengan memberikan hormon buatan yang disebut desmopressin. Hormon buatan ini akan membantu meningkatkan hormon ADH di tubuh anak sehingga si kecil bisa menyeimbangkan produksi air kemih dan pengeluarannya saat tidur.

ngompol2Sejauh ini, pemberian desmopressin, menurut Sudung, tak mengakibatkan dampak negatif pada anak. Kecuali, pada beberapa anak yang sensitif mengakibatkan rasa pusing sesaat. “Pemakaian desmopressin juga mengurangi pengeluaran cairan dari tubuh, dan potensial membuat anak menahan cairan jika minum terlalu banyak setelah meminum obat. “Jadi, sangat penting bagi anak yang mendapatkan terapi desmopressin untuk mengurangi minum sebelum tidur.”

Menurut Sudung dalam sebuah artikel, ada dua jenis ngompol. Pertama adalah ngompol normal yang disebut enuresis. Ngompol ini biasanya berhenti bila anak sudah berusia 7 tahun. Kedua, disebut incontinence urine. Yakni kebiasaan ngompol yang sulit dicegah oleh penderita, tak hanya saat ia tertidur saja. Incontinensia ini terjadi karena kelainan kandung kemih. Biasanya keluarnya air kemih tidak selalu lancar tapi hanya sekadar menetes saja.

Menurut Zakiudin Munasir, SpA(K), dokter spesialis anak yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, secara medis penyebab paling banyak anak suka ngompol karena infeksi saluran kencing. Atau mungkin saja karena anak menderita kencing manis.

Menurutnya, selain penyakit tersebut, anak suka ngompol bisa jadi disebabkan ada kelainan di sumsum tulang belakangnya. Kelainan itu bisa karena ada tumor atau penyakit tidak normal lainnya. Kalau sumsum tulang belakangnya bermasalah, saraf-sarafnya tidak bisa mengontrol kandung kencing dengan baik.

Selain secara medis, anak suka ngompol bisa disebabkan karena faktor psikologis. Anak yang stres, tertekan, ketakutan atau tegang, bisa terjangkit penyakit ngompol. Karenanya, menurut Seto Mulyadi dalam sebuah artikel, anak suka ngompol sebaiknya jangan dimarahi. Secara psikologis, anak yang sering ngompol, bisa jadi karena kurang mendapatkan perhatian. Ia memberikan contoh anak bungsu.

Yang tak kalah pentingnya, penyakit ngompol bisa juga disebabkan karena faktor genetik atau keturunan. Kalau di antara orangtuanya ada yang suka ngompol, maka ada kemungkinan anaknya pun suka ngompol. Sebuah data menyebutkan ngompol terjadi pada anak-anak laki-laki (60%) dan anak perempuan 40%. Bila salah satu orangtuanya waktu kecil suka ngompol, maka 44% dari anaknya memunyai risiko ngompol. Bila kedua orangtua waktu kecil suka ngompol, maka 77% dari anaknya memupunyai risiko ngompol.

Sebaiknya anak disuruh kencing dan jangan minum terlalu banyak. Atau minum jauh sebelum mau tidur. Lalu, biasakan secara teratur anak dibangunkan pada tengah malam. Ini akan melatih anak kalau mau kencing akan menuju kamar kecil.

Jika anak sudah menginjak usia diatas 5 tahun dan masih mengompol biasakan anak pipis di kamar mandi sebelum tidur. Di usia ini orangtua harus bekerja keras. Walaupun telah pipis sebelum tidur kadang anak bisa juga ngompol. Untuk mengatasi ini maka 2 – 3 jam setelah anak tidur, coba anak dibangunkan untuk pipis lagi.

Bagaimanapun juga, kalau si kecil terbiasa buang air di sembarang tempat, akan mengganggu kebersihan keluarga. Air kencing mereka termasuk najis yang bisa menyebabkan tidak sahnya shalat. Selain itu, kalau kebiasaan ngompol ini dibiarkan, akan terbawa sampai sang anak remaja, bahkan dewasa. Ini akan berpengaruh pada kejiwaan sang anak. Kalau teman-temannya tahu, ia akan dijuluki depol alias gede ngompol. Malukan, punya anak tukang ngompol.

ngompol3Biasakan anak pipis di kamar mandi sejak usia 5 bulan. Emang bisa? Kenapa tidak? Biasakan anak untuk diajak ke kamar mandi dan membuka celananya kemudian bantu anak untuk pipis dengan berkomunikasi. Hal ini dapat dilakukan pada jam-jam tertentu. Biasanya setelah anak minum susu, sebelum dan sesudah tidur.

Bahkan jika anak bangun tidur dan mengompol ajaklah anak ke kamar mandi untuk pipis lagi atau hanya sekedar membersihkan bekas ompol pada badannya. Mungkin akan banyak mengalami kesulitan tapi percayalah bahwa anak sudah bisa diajak bicara.

Seiring berkembangnya teknologi, banyak cara dilakukan untuk mengatasi anak suka ngompol. Salah satunya menggunakan alarm. Penggunaan alarm ini bermanfaat untuk melatih daya ingat si kecil untuk bangun saat ia ingin buang air kecil. Alat ini bekerja dengan detektor yang berfungsi mendeteksi apakah ada cairan urine yang keluar. Bila ada maka alarm ini akan berbunyi dan akan membangunkan anak.

Jangan biasakan anak memakai pampers apalagi di dalam rumah. Memang pampers mempermudah kita, tapi selain untuk kebersihan dan kesehatan gerak anak akan terganggu dan anak akan malas atau terbiasa pipis dimana pun dia berada. Mungkin pampers lebih cocok digunakan ketika dalam perjalanan atau pada waktu khusus lainnya. Selamat berusaha terhindar dari bau pesing.

Sumber Berita